Bismillah…
Sekitar 4 bulan yang lalu ibuku pergi ke Jakarta untuk menjenguk kakak yang tinggal disana. Selama 1 minggu beliau di Jakarta dan kemudian memutuskan kembali ke Surabaya dengan membawa seorang laki-laki. Laki-laki yang sangat membutuhkan ibuku disampingnya sehingga ibu tidak bisa berpaling semenitpun darinya. Aku menjemput mereka di Stasiun Pasar Turi, ada rasa berdebar-debar dalam hatiku, pikiranku berkelana mencari gambaran seperti apa wajah laki-laki tersebut. Cukup lama aku menunggu di stasiun kereta, setelah kutanya ke petugas stasiun kereta kemungkinan terlambat kurang lebih 30 menit. Setelah 30 menit kemudian kereta yang kutunggu akhirnya datang, aku segera mendatangi pintu gerbong tempat ibu dan laki-laki itu menghabiskan waktu selama kurang lebih 12 jam di perjalanan Jakarta-Surabaya. Akhirnya aku melihat wajah ibuku, dan tidak lama kemudian kulihat wajah laki-laki tersebut. Wajahnya putih bersih dan bulat, dia memakai baju panjang dan jaket agar selama di perjalanan tidak kedinginan. Bisa dikatakan dia adalah laki-laki yang tinggi untuk usianya. Lebih kuamati lagi wajah laki-laki tersebut dan tanya pada ibuku, mengapa wajahnya putih pucat. Ternyata dia tidak kuat pakai Air Conditioner, meskipun sudah menggunakan jaket tebal. Ya, dia adalah keponakanku yang baru, seorang bayi yang baru berusia 4 bulan, yang bernama Nauval Hisyam Adiputra, nama panggilannya Nauval. Karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung di Jakarta, dia harus dibawa ke Surabaya, ke rumah neneknya, untuk diasuh jauh dari orangtua kandungnya. Kasihan… untuk bayi itu tapi harus bagaimana lagi itulah cara penyelesain yang dianggap paling baik pada saat itu bahkan sampai saat ini. Kami segera keluar dari stasiun dan mencari taxi untuk pulang ke rumah. Sampainya di rumah kulihat lagi wajah mungil dan lugunya, dia masih tertidur pulas, mungkin kecapaian karena lamanya perjalanan.

Cerita selanjutnya “Hari-hari bersama Nauval”